Beberapa jenis orang yang tidak suka dengan Microsoft Word (dan pengolah kata WYSIWYG lainnya)

Jaman dahulu kala, ketika Anda harus membuat dokumen di komputer menggunakan aplikasi WordStar yang berjalan di atas DOS, Anda harus membayang-bayangkan dan mereka-reka seperti apa bentuk dokumen yang dibuat ketika nantinya dicetak menggunakan printer dot matrix yang suaranya menyakitkan telinga itu. Pasalnya, teknologi komputer saat itu hanya mampu menampilkan sekumpulan teks di dalam matriks sebesar 25 baris x 80 kolom dengan jumlah warna yang bisa dihitung jari. Zaman itu komputer mainstream (komputer berbasis IBM PC berbasis DOS, tidak termasuk Macintosh yang kala itu sudah canggih) kebanyakan belum memiliki kemampuan me-render grafik berbasis raster (warna pada titik piksel dengan resolusi VGA/SVGA), sehingga bentuk font, ketebalan, miring, warna, dsb tidak bisa direpresentasikan ke layar.

WordStar zaman DOS

Sekian dekade kemudian dan kita sudah tidak asing dengan Microsoft Word dan aplikasi sejenis lainnya, yang mana melalui konsep WYSIWYG (What You See Is What You Get)-nya bisa menampilkan isi dokumen apa adanya seperti bentuk cetaknya. Tidak perlu lagi pusing dengan tanda markup semacam ^B, ^S, dan ^Y, segala tulisan, tabel, gambar ditampilkan apa adanya berkat kemampuan grafis raster yang ada di komputer modern.

Untuk mayoritas orang, aplikasi pengolah dokumen modern sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka (misalnya) dalam aktivitas membuat laporan, tugas sekolah, dan aktivitas lainnya. Pengguna hanya cukup mengetik, memberi format, menempelkan tabel dan gambar dan yang lebih canggih lagi bisa menggambar objek ilustrasi di dalamnya.

Namun taukah Anda, ada beberapa pihak yang tidak sreg dengan konsep penulisan secara WYSIWYG seperti misalnya akademisi (yang keukeuh menggunakan LaTeX dan variannya), penulis Wiki (yang punya bahasa penulisan sendiri) dan pengembang perangkat lunak (yang entah kenapa kebanyakan benci menulis laporan dengan MS Word). Mereka justru lebih sreg untuk menulis dengan teks editor (semacam Notepad), dan menulis segala bentuk formatting dalam bentuk Markup seperti layaknya zaman WordStar yang saya ceritakan di awal. Apakah mereka terlalu kolot untuk tetap mempertahankan “tradisi” sehingga mereka konservatif dalam teknologi, atau apakah ada alasan praktis dibalik keengganan mereka untuk menggunakan MS Word? Ternyata ada. Menurut saya, ada beberapa alasan praktis mereka dibalik itu semua:

  • Dibalik kemudahan penggunaannya, MS Word menggunakan format yang sangat ribet berbasis XML yang membuat penggunanya mau tidak mau harus lock-in menggunakan aplikasi MS Word atau aplikasi lain yang mendukung format ini (semoga saja Anda sukses membuka dokumen MS Word di LibreOffice dan sebaliknya tanpa formatnya berantakan /s)
  • Akademisi, Penulis Wiki dan Pengembang Perangkat Lunak membutuhkan KONSISTENSI baik dari segi struktur dan format dalam penulisan dokumen. Aplikasi pengolah kata WYSIWYG memungkinkan pengguna untuk menulis dengan format sesukanya sehingga aspek konsistensi ini susah untuk ditegakkan.
  • PLUS: Mereka-mereka ini umumnya tidak mau ribet masalah formatting. Mereka hanya ingin menulis tanpa memikirkan bagaimana tulisannya ditampilkan. Yang penting rapi dan konsisten.

Kadangkala, ada saatnya dimana menggunakan MS Word dan aplikasi pengolah kata WYSIWYG lainnya cenderung kontra-produktif. Misalnya ketika Anda menulis skripsi, ada beberapa kala ketika Anda harus mencurahkan sebagian besar waktu Anda untuk melakukan formating manual beberapa bagian teks karena misalnya: penggalan kata yang tidak pas, posisi gambar yang tidak cocok, penulisan paragraf tidak konsisten, dan masih banyak lagi. Mungkin saja hal-hal tersebut bisa dihindari dengan memanfaatkan fitur styling yang baik sejak awal. Namun masalahnya, tidak semua orang menggunakan fitur ini dengan baik karena tidak ada pengetatan sejak awal.

Saya sendiri termasuk mereka-mereka yang lumayan sering menggunakan MS Word dan LibreOffice Writer untuk menulis laporan ke stakeholder. Namun, untuk kebutuhan lainnya seperti menulis blog, menulis diari, catatan kuliah, thesis, skripsi, menulis dokumentasi perangkat lunak, dsb saya benar-benar menghindari penggunaan aplikasi berbasis WYSIWYG karena alasan sederhana: ingin fokus menulis tanpa terdistraksi oleh formating. Untuk penulisan dokumen ilmiah, saya tidak pernah meragukan LaTeX yang membuat dokumen saya rapi dan konsisten. Pada saat saya skripsi S1, saya menyempatkan membuat templat LaTeX skripsi sesuai dengan format dari kampus (https://github.com/initrunlevel0/buku-ta-its-xelatex) sehingga bisa digunakan oleh angkatan bawah. Untuk menulis tulisan lainnya, saya mempercayakan Markdown yang fiturnya semakin canggih berkat dukungan di berbagai platform seperti Worpress (blogging) dan Github/Gitlab (pengembangan perangkat lunak). Saya juga menulis segala catatan dan diari terkait keseharian saya melalui Markdown menggunakan IDE bernama Typora (https://typora.io/) dan disinkronisasikan melalui Dropbox (bye bye OneNote~).

Akhir kata, tidak ada salahnya untuk belajar hal baru. Ada kalanya sesuatu yang terkesan old lebih efisien karena sederhana.